Tempat
tinggalnya hanya rumah bilik, yang ia bayar setiap bulannya Rp 50 ribu. Rumah
itu hanyaunya tiga ruangan. Pertama
kamar tidur, kedua dapur seadanya dan ketiga ruang serba guna. Ya untuk tidur
anak-anaknya ketika malam tiba atau ruang tamu. Sebetulnya, Subur tak pernah
punya tamu. Kontrakannya ada di sebuah gang sempit, berdempetan dengan
rumah-rumah kontrakan lainnya.
Perempuan renta itu terus saja berbisik.
Tangannya yang keriput tampak gemetar saat koran menguning kecoklatan
dikipas-kipaskannya.Matanya yang keruh menatap kosong wanita muda yang lemah
tergeletak didepannya. Suhu tubuhnya begitu tinggi. Kulit bibirnya putih kering
mengelupas. Wanita muda itu hanya bisa menggigil dan menceracau yang tak jelas.
Gadis belia itu menatap rerumputan yang
menari dicumbu angin. Jari-jemarinya tak henti memencet tombol selulernya. Berat
nafasnya mendesah saat seseorang yang ditelepon tak juga mengangkat.
Tut…tut…tut…tuttttttt
(nomor telepon yang Anda hubungi sedang
tidak aktif atau sedang berada di luar area, cobalah beberapa….)
“Angkat dong,” ucapnya berbisik.
Adakah yang mendengarnya? Apakah lelaki
yang dinanti itu mendengar bisik suara kekasihnya? Atau hanya angin yang membawa
suara itu terbang berkelana membawa keperihan.
Gadis belia itu terus saja memencet telpon
selulernya. Di sekolah, di
ruang kelas saat pelajaran berlangsung, di saat waktu istirahat, saat menunggu
bis yang mengantarnya pulang, di dalam bis, di rumah, saat makan, saat belajar sampai
menjelang tidur si gadis belia terus memencet telepon selularnya dan hanya
mesin penjawab otomatis yang menyambutnya.
Apakah pantas aku menceritakan pengalaman hidupku
ini kepada pembaca Tabloid DangdutPlus. Karena bagi sebagian besar manusia,
profesi yang kujalani sangatlah menjijikan hingga sangatlah pantas jika aku ini
dicibir, dihinadinakan, ditangkapi oleh para petugas sebab dianggap mengganggu
ketertibandan hanya mengotori pemandangan.
Melalui tulisan ini pun, aku tak bermaksud untuk membela diri atas profesi yang
aku jalani menjadi seorang Pelacur.