Search
Manusia Gerobak Print E-mail
gerobak.jpgBagai siput yang menyeret rumahnya ke mana-mana. Ia punya rumah, tapi tanpa alamat. Trotoar, kolong jembatan layang hingga taman kota menjadi tempat persinggahannya. Itulah sosok manusia grobak, yang mencoba bertahan hidup di tengah belantara kerasnya rimba Jakarta.

Hujan yang turun membasahi Jakarta, memaksa setiap orang berteduh. Gerobak-gerobak pemulung di parkir semrawut, mencari perlindungan dari hujan. Sebagian berteduh di bawah rindang pepohonan, sebagian di emper warung. Mendung masih menggantung kelam, pertanda hujan akan terus berlangsung. Di kawasan jalan Tebet, Jakarta Selatan, Haryadi memarkir gerobaknya. Gerobak seng tak bercat beratap terpal plastik itulah “rumah” Haryadi. Di dalam rumah ukuran 2 x 1 meter itu seluruh kekayaan Haryadi disimpan. Sarung lusuh, bantal kotor, dan beberapa potong pakaian kusut berjejalan di ruang sempit. Ada juga ember kecil, sikat gigi, sepotong sabun mandi, dan handuk kecil tergantung di dinding gerobak. Lelaki usia 43 tahun itu membenahi atap gerobaknya. Terpal lusuh itu tak mampu lagi menahan bocor di sana sini, akibat hujan yang terus mengguyur. Rumah itu pun kemudian menjadi basah.

Haryadi sudah terlalu letih. Mata tuanya lelah menahan kantuk. Ia rebahkan diri di “peraduannya” di gerobak itu. Ditariknya selimut ke dada dan merelakan kakinya basah oleh tetes air rembesan hujan. Matanya dipejamkan, mencoba melupakan dingin yang menyerang hingga ke tulang.

Seperti siput, Haryadi dan ratusan manusia gerobak lain di Jakarta membawa rumah mereka ke mana pun pergi. Setiap hari manusia gerobak menyusuri jalan-jalan Ibu Kota. Mereka memiliki rumah, tapi tidak punya alamat tetap. “Memang susah sih hidup di jalanan. Kalau hujan kedinginan, panas kepanasan,”lirih haryadi. Sembari bercerita, lelaki paro baya ini sesekali menyeka tetesan air hujan yang mampir di wajahnya dengan handuk kecil yang setia melingkar di lehernya. Jika hari panas handuk lusuh itu yang menghapus keringat ketika dia bekerja.gerobak1.jpg

Usianya baru lima belas tahun ketika Haryadi menginjakkan kaki di Jakarta. Bocah sebatang kara asal Desa Bongas, Indramayu, Jawa Barat, ini tiba di Ibu kota karena diajak tetangganya. Namun akhirnya dia ditinggalkan sendiri. Haryadi kecil harus melanjutkan kehidupan, apa pun jalannya. Ia pun berkelana di Jakarta tanpa uang di tangan. Bocah ini belajar bertahan hidup di tengah kerasnya Ibu Kota dengan satu-satunya cara yang ia tahu. Mengais sampah, mendapatkan barang bekas, menjualnya ke pengumpul, dan membeli makanan untuk bertahan hidup. Dia pun tidur di emper-emper toko. Saat itu belum terbersit ide untuk tinggal dalam gerobak.

Selama 10 tahun pria berkulit legam itu mencoba menyisihkan penghasilan yang tak seberapa untuk pulang ke kampong halaman. Namun di tanah kelahirannya Ia bingung. Tak ada pekerjaan di sana. Uang simpanan selama memulung di Jakarta pun habis dalam sekejap. Tanpa pekerjaan, jiwa mudanya gelisah. Akhirnya dia membulatkan tekad untuk kembali bergelut di Ibu Kota. Hanya berbekal keyakinan, lelaki bertubuh sedang ini menginjakkan kaki untuk kedua kali di Jakarta. Kembali memulung seperti kali pertama dia datang.

Kawasan Tebet menjadi pilihan untuk mencoba peruntungan. Saat itu Tebet belum seramai sekarang. Haryadi mengaku dialah pemulung pertama di sana, sehingga masih cukup mudah mendapatkan lapak untuk sekadar menumpang tidur. Harapan untuk mendapatkan pekerjaan lain juga tetap dipupuknya. Namun nasib baik tak juga menghampiri. Selama 28 tahun ia terjebak dalam liang kemiskinan. Selama itu pula dia hidup sebagai tunawisma. Mulai banyak pemulung lain yang juga bertarung di Tebet memaksanya beringsut menyingkir. Akhirnya ide cemerlang datang untuk menempati rumah gerobak.

 

Potret Buram

Meski akrab dengan dingin angina malam, ia tak bisa memungkiri usianya kian merambat naik. Kini ia kerap mengalami sakit. Walau sakit yang kerap mampir hanya flu biasa, dia tak mampu berobat ke dokter karena biayanya tak sebanding dengan pendapatannya.

Haryadi pun memilih melawan sakit dengan obat kelas warung yang harganya relative terjangkau. Sehari-hari Haryadimandi di warung dekat pangkalan gerobaknya di Tebet. Pemilik warung tak pernah keberatan lelaki tua itu menumpangmandi. Namun, untuk buang hajat, Sumarna harus melakukannya di toilet umum Pasar Tebet. Tinggal di gerobak adalah pilihan hidupnya. Ia tak mau menetap di gubuk seperti tunawisma lain. Sebab, dengan gerobak ia bisa menghindari aparat yang sering “menggaruk” para tunawisma yang terus bertambah di Jakarta. Jika ada operasi, ia langsung menarik gerobaknya, berpindah ke tempat yang dirasa aman. Pemerintah tidak pernah mau tahu nasib Haryadi dan kaumnya, yang tidak mampu memiliki tempat tinggal semestinya.Orang-orang kecil dan papa itu dilihat hanya sebagai sampah kota yang mengganggu keindahan. Pemerintah merasa upaya untuk menyingkirkan mereka setara dengan yang dilakukan untuk membangun lampu hias kota.

Kini Haryadi tak muda lagi. Otototot tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Geraknya sudah lamban. Ia tak lagi bias mengais gelas plastik bekas sebanyak dulu. Kini dalam sehari ia hanya mampu mengumpulkan uang Rp 25 ribu. Uang hasil cucuran keringat itu hanya cukup untuk makan. Nyaris tak ada yang tersisa. Malam kian membekap, awan hitam menggantung di langit Jakarta. Hujan tak juga reda. Tampaknya cuaca akan kembali menghalanginya mengais-ngais sampah dan menemukan barang bekas. Untung masih ada “tabungan” satu karung gelas plastik bekas yang bisa dijualnya untuk makan esok hari. Haryadi kembali tidur. Lelah berkelana di belantara Ibu Kota segera mengantarnya ke alam mimpi. Tetes air hujan yang menerobos terpal plastik gerobaknya tak mampu mengusik tidur lelapnya. Haryadi, adalah salah satu gambaran potret buram kota Jakarta. Masih banyak lagi Haryadi-Haryadi yang lain, yang hidup sebagai manusia gerobak. Keberadaannya di kota metropolitan ini, seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah kota .

Sehingga kebijakan pembangunan di ibukota negara ini tidak melulu beror ientasi kepada pembangunan fisik semata, tetapi harus juga memperhatikan masalah masyarakat miskin. Karena keberadaan masyarakat miskin sangat rentan untuk menimbulan prahara sosial. Kesenjangan sosial yang sangat tajam diantara kaum kosmopolitan Jakarta dengan masyarakat miskin, dapat dengan mudah mencetus konflik sosial.

Bila keadaan ini terus berlangsung, beragam kejahatan akan mudah muncul kepermukaan. Oleh karena itu pemerintah kota Jakarta harus segera melakukan tindakan, sebelum hadiah bom waktu sosisal itu meletus. Bukankah tindakan kriminal amat mudah terlahir dari perut yang keroncongan?.Rus

 
Next >
Pendatang BaruNabila Marsya Bangga Orang Tua Penerbang

article thumbnailBerbagai kristal menawan, boneka hingga mug-mug lucu semuanya tersimpan rapih dalam lemari dan rak yang ada di kamar pribadinya maupun ruangan...
+ Selengkapnya

Pendatang BaruSalju Mendinginkan Telinga Pecinta Musik

article thumbnailApa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “salju”? Ya, dingin, putih dan lembut. Dan band ini – yang akhirnya memilih...
+ Selengkapnya

Pendatang BaruEcoutez Tebar Virus Jazz Lewat “POSITIVE”

article thumbnail Grup musik Ecoutez baru-baru ini merilis album kedua mereka bertajuk Positive. Grup musik yang beranggotakan Delia (vokal), Ayik (gitar), Leo...
+ Selengkapnya

KompilasiManusia Gerobak

article thumbnailBagai siput yang menyeret rumahnya ke mana-mana. Ia punya rumah, tapi tanpa alamat. Trotoar, kolong jembatan layang hingga taman kota menjadi...
+ Selengkapnya

Artikel Lainya

radio_cbb.jpg

Kontak Jodoh

Kontak Jodoh - WanitaWanita, 25 , Sales Promotion Girl

article image Wanita, 25 , Sales Promotion...
+ Selengkapnya

Kontak Jodoh - WanitaWanita, 29, Pegawai Swasta,

article image Wanita, 29, Pegawai Swasta, Islam,...
+ Selengkapnya

Kontak Lainya
>