| Manusia Gerobak |
|
|
Bagai siput yang menyeret rumahnya ke mana-mana. Ia punya
rumah, tapi tanpa alamat. Trotoar, kolong jembatan layang hingga taman
Hujan
yang turun membasahi
Haryadi
sudah terlalu letih. Mata tuanya lelah menahan kantuk. Ia rebahkan diri di “peraduannya”
di gerobak itu. Ditariknya selimut ke dada dan merelakan kakinya basah oleh
tetes air rembesan hujan. Matanya dipejamkan, mencoba melupakan dingin yang
menyerang hingga ke tulang.
Seperti
siput, Haryadi dan ratusan manusia gerobak lain di Jakarta membawa rumah mereka
ke mana pun pergi. Setiap hari manusia gerobak menyusuri jalan-jalan Ibu Kota.
Mereka memiliki rumah, tapi tidak punya alamat tetap. “Memang susah sih hidup
di jalanan. Kalau hujan kedinginan, panas kepanasan,”lirih haryadi. Sembari
bercerita, lelaki paro baya ini sesekali menyeka tetesan air hujan yang mampir
di wajahnya dengan handuk kecil yang setia melingkar di lehernya. Jika hari
panas handuk lusuh itu yang menghapus keringat ketika dia bekerja.
Usianya
baru
Selama
10 tahun pria berkulit legam itu mencoba menyisihkan penghasilan yang tak
seberapa untuk pulang ke kampong halaman. Namun di tanah kelahirannya Ia
bingung. Tak ada pekerjaan di
Kawasan
Tebet menjadi pilihan untuk mencoba peruntungan. Saat itu Tebet belum seramai
sekarang. Haryadi mengaku dialah pemulung pertama di
Potret Buram
Meski
akrab dengan dingin angina malam, ia tak bisa memungkiri usianya kian merambat
naik. Kini ia kerap mengalami sakit. Walau sakit yang kerap mampir hanya flu
biasa, dia tak mampu berobat ke dokter karena biayanya tak sebanding dengan
pendapatannya.
Haryadi
pun memilih melawan sakit dengan obat kelas warung yang harganya relative terjangkau.
Sehari-hari Haryadimandi di warung dekat pangkalan gerobaknya di Tebet. Pemilik
warung tak pernah keberatan lelaki tua itu menumpangmandi. Namun, untuk buang
hajat, Sumarna harus melakukannya di toilet umum Pasar Tebet. Tinggal di
gerobak adalah pilihan hidupnya. Ia tak mau menetap di gubuk seperti tunawisma
lain. Sebab, dengan gerobak ia bisa menghindari aparat yang sering “menggaruk”
para tunawisma yang terus bertambah di
Kini
Haryadi tak muda lagi. Otototot tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Geraknya sudah
lamban. Ia tak lagi bias mengais gelas plastik bekas sebanyak dulu. Kini dalam
sehari ia hanya mampu mengumpulkan uang Rp 25 ribu. Uang hasil cucuran keringat
itu hanya cukup untuk makan. Nyaris tak ada yang tersisa. Malam kian membekap,
awan hitam menggantung di langit
Sehingga
kebijakan pembangunan di ibukota negara ini tidak melulu beror ientasi kepada pembangunan
fisik semata, tetapi harus juga memperhatikan masalah masyarakat miskin. Karena
keberadaan masyarakat miskin sangat rentan untuk menimbulan prahara sosial.
Kesenjangan sosial yang sangat tajam diantara kaum kosmopolitan
Bila
keadaan ini terus berlangsung, beragam kejahatan akan mudah muncul kepermukaan.
Oleh karena itu pemerintah |
| Next > |
|---|
| Pendatang BaruNabila Marsya Bangga Orang Tua Penerbang + Selengkapnya | Pendatang BaruSalju Mendinginkan Telinga Pecinta Musik + Selengkapnya |
| Pendatang BaruEcoutez Tebar Virus Jazz Lewat “POSITIVE” + Selengkapnya | KompilasiManusia Gerobak + Selengkapnya |
| Artikel Lainya | |
Tabloid Dangdut Plus Digital
Kontak Jodoh
| Kontak Jodoh - WanitaWanita, 25 , Sales Promotion Girl + Selengkapnya |
| Kontak Jodoh - WanitaWanita, 29, Pegawai Swasta, + Selengkapnya |
| Kontak Lainya |
Zodiak
| TAURUS (20 April - 19 Mei) + Selengkapnya |
| Aries (20 Maret – 19 April) + Selengkapnya |
| PISCES (18 Februari - 19 Maret) + Selengkapnya |
| Zodiak Lainya |



